Beberapa hari lalu, ditengah kesibukan menyusun laporan PKL yang hampir mencapai deadline, saya bercengkrama sambil mendengar cerita dari seorang teman. Pada awalnya hanya sebuah pembicaraan pembuka yang ringan. Disamping menyenangkan, hal tersebut bisa membuat saya melupakan rasa kantuk saya pada malam yang semakin larut. Ada satu hal menarik dari pembicaraan kami yang menjadi perhatian saya. Saya ingin bercerita sedikit di sini. Teman saya bercerita tentang pengalaman salah satu kenalannya. Ternyata itu hal yang pernah saya alami juga. Namun, saya tidak memikirkan hal tersebut lagi hingga kemarin.
Pernahkah Anda merasa menyesal terhadap sesuatu yang telah Anda kerjakan? Anda merasa seharusnya Anda tidak pernah melakukan hal itu ataupun merasa hal tersebut membuat Anda merasa tidak beruntung dibanding orang lain. Kalau saya, tentu saja pernah. Sebenarnya sangat disayangkan apabila kita menyesal dengan yang telah kita lakukan, apabila hal tersebut adalah hal yang bermanfaat bagi kita. Hanya karena alasan, "Masa mudaku hilang gara-gara melakukan hal ini." atau mungkin, "Aku tidak bisa bersenang-senang seperti temanku yang lain."
Wah, padahal sebenarnya kita harus merasa bersyukur karena punya kesibukan yang berarti. Bahkan dikatakan bahwa kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang kita miliki. Jadi, masih adakah waktu kita untuk banyak bersantai? Bukan juga berati kita harus terus bekerja tanpa henti. Banyak bersantai dan refreshing itu memiliki arti yang berbeda, lho. Tentu saja setiap orang butuh yang namanya hiburan di sela-sela kesibukan. Nabi Muhammad SAW saja menjadikan shalat sebagai salah satu bentuk rekresi/istirahat dan menjalankan shalat pada waktu-waktu yang diutamakan. Sedangkan kita, kadangkala melaksanakan ibadah hanya pada waktu sisa. Bukankah akhirat lebih utama daripada dunia. Di saat lelah, kita bisa berekreasi ke suatu tempat atau sekedar mendengarkan musik dan menonton televisi. Sedangkan dengan mengetahui bahwa nabi menjadikan shalat sebagai rekreasi/istirahat, kita dapat menyimpulkan bahwa kesibukan nabi lebih banyak daripada kita. Namun, kita sepertinya yang lebih banyak mengeluh daripada nabi.
Kembali ke topik tadi, tentang masa muda. Jika ada dari kita yang menyesal dengan pilihan baik yang telah diputuskan hanya karena kita menjadi kehilangan sesuatu yang kurang penting, maka sebaiknya kita berpikir ulang tentang untung ruginya. Semua yang kita lakukan berawal dari niat. Jika, niat kita baik maka semua akan baik pula dan pahala untuk kita. Saya berkata seperti ini bukan berarti saya lebih baik dari orang lain. Saya seperti berdialog kepada diri saya sendiri dan mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Kadang ada yang bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik ke depan, namun kadang pula sering saya ulangi. Sebaik-baik orang adalah yang bisa belajar dan berubah menjadi lebih baik dari pengalaman. Jika kita berada di pagi hari, jangan menunggu sore hari. Jika kita berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari. Nasihat bagi saya sendiri yang seringkali menunda-nunda pekerjaan. Jika anda merasa masa muda anda sia-sia karena tidak bisa bersenang-senang dan menikmati masa muda seperti teman lain karena kesibukan yang bermanfaat, ingatlah bahwa kita tidak tahu berapa lama kita bisa hidup di dunia ini. Semoga masa muda ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya.
Archive for October 2010
Mengapa Harus Menyesal?
.
Category Reflection
Need not a shoulder to cry on, just give me a stronger shoulder
.
Hmm... Selamat malam! hari yang cukup melelahkan. Namun, tak cukup bagi saya untuk berhenti dan berangkat tidur. Sedikit merenung tentang hari ini. Berbagai keputusan yang telah diambil. Entah bijaksana atau tidak, yang pastinya semua keputusan yang saya ambil merupakan hasil dari nilai prioritas yang saya telah pertimbangkan. Semua yang telah saya putuskan, tentunya ada konsekuensi yang akan saya tanggung. Semua tanggung jawab saya. Mau menyalahkan orang lain, atau mengapa takdir memilih saya.
Tapi tak ada yang salah. Ini pilihan saya.
Sedikit mengeluh. Dalam waktu beberapa saat menyesali keputusan saya, dan sedikit menyalahkan diri sendiri. Apakah saya cukup mampu dengan amanah ini? Apakah saya cukup pantas dengan amanah ini? Apakah saya akan bisa menjalaninya dengan total? Saya bertanya-tanya. Namun, semua telah terjadi. Sedikit merenung memang bisa membuat pikiran saya membaik. Tak ada yang berubah. Hanya saja. Ternyata menjadi orang yang dibutuhkan adalah salah satu nilai plus dari segala hal yang ada di pikirin saya sekarang. Tetap merendahkan hati, tanpa ada sedikit pun kesombongan. Bukankah sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Sebenarnya, ada sedikit terbesit rasa egois dalam diri saya. Namun, saya takut amanah ini saya perlukan. Saya takut kalau saya tolak, ternyata saya melewatkan sesuatu yang baik buat saya. Saya tidak tahu, tapi itu yang terjadi.
Setelah merenung saya putuskan untuk meluruskan hati, pikiran, dan niat saya. Supaya dapat meringankan langkah saya ke depan. Teringat seikit kutipan yang membuat saya sedikit tersenyum dan menertawakan diri dalam hati. Saya terlalu banyak mengeluh.
"Jika mendapat beban amanah, jangan meminta beban yang lebih ringan. Mintalah bahu yang lebih kuat"
Oke. Sekarang saya tidak perlu menangis di bahu seseorang, saya hanya perlu bahu yang lebih kuat untuk membawanya. Semoga amanah ini bisa membawa manfaat bagi saya dan bagi orang lain.
*Di tengah hiruk-pikuk MUSASI HMF UNTAN



