Archive for May 2011

Heart of Sword


.


Kecintaan saya pada segala hal tentang Jepang dari dulu membuat judul blog saya di atas juga adalah “Atashiwa Atashi” yang artinya kira-kira adalah “aku adalah aku”. Tapi, tentu saja saya masih lebih cinta pada Negara Indonesia. Semoga seorang teman saya juga begitu, karena dia pernah bilang lebih ingin jadi warga Negara Korea daripada Indonesia. Jadi teringat salah satu lagu wajib yang sangat menyentuh saat dinyanyikan berjudul Tanah Airku. Lagu ini juga dinyanyikan pada tayangan Kick Andy dua minggu lalu. Tema yang diangkat saat itu adalah orang Indonesia yang telah sukses di luar negeri kembali ke tanah airnya tercinta, Indonesia.
Berkaitan dengan judul di atas, pada postingan kali ini saya akan membahas sedikit tentang sebuah lagu yang sudah lama tidak saya dengar. Sebuah lagu jepang yang dibawakan oleh band yang berjudul Heart of Sword. Ada satu fakta menarik yang pernah saya baca mengenai tulisan yang ada pada kata Heart dan Sword. Kata “ninja” terdiri dari dua kata yaitu nin dan sha yang masing-masing artinya adalah tersembunyi dan orang. 
Pada jaman Edo sebelum restorasi Meiji, banyak sekali para samurai dan ninja yang bekerja untuk para pemerintah atau orang-orang berpengaruh. Para samurai menjadi abdi yang rela melakukan apapun untuk atasannya. Katanya sih, untuk melakukan pembunuhan dan sejenisnya. Sedangkan ninja yang biasanya bekerja dengan diam-diam dan sangat rapi dalam menyusup juga dikatakan sebagai senjata ampuh yang tak terdeteksi. Namun, setelah restorasi Meiji bahkan pedang pun tidak boleh sembarangan dibawa oleh seorang samurai.
Baik samurai maupun ninja menurut saya juga dapat diibaratkan seperti lagu Heart of Sword, hati dari pedang. Walaupun mereka pada jaman dahulu bekerja sebagai seorang yang membunuh atau menyusup atas perintah atasannya namun mereka tetap saja berdarah panas (kadang ada istilah pembunuh berdarah dingin, reptil kali ya?). Dalam arti, mereka tetap saja manusia yang memiliki hati. Bukanlah semata-mata sebuah alat seperti pedang tapi adalah pedang yang memiliki hati. Mungkin ini juga alasan mengapa tulisan kanji pedang yang disatukan dengan tulisan kanji hati maka akan terbentuk tulisan kanji ninja. Pantaslah salah satu soundtrack anime Samurai X judulnya seperti itu. Kenshin Himura sang tokoh utama adalah seorang samurai bukan ninja. Samurai ataupun ninja, mereka memiliki hati.

Mirip Cina


.


                       
 Malam ini saya bercengkarama bersama kakak perempuan dan adik laki-laki saya melingkari meja makan-makan. Kami menceritakan beberapa kejadian tak biasa dan cenderung lucu tentang orang orang-orang yang menyangka kami adalah orang cina. Memang sih kami sekeluarga mulai dari ayah, mama, saya dan adik saya mirip cina. Kalau kakak saya memang tidak mirip cina tapi ya tetap saja putih. Oke ini beberapa kisah yang dapat saya tuturkan di sini.
                Waktu ke toko olahraga, adik saya menanyakan sesuatu barang yang ingin dibelinya. Nah, bukannya menjawab dengan bahasa Indonesia atau mungkin melayu, si penjual yang merupakan orang cina malah menjawab dengan bahasa cina. Adik saya pun mengulang kembali pertanyaannya dan sadarlah si penjual bahwa adik saya bukanlah orang cina.
                Cerita lain adik saya pernah beli kupon acara buka puasa di kampusnya. Temannya yang menjual kupon itu kaget dan berkomentar, “Oh, ternyata kamu Islam, ya?” Cerita lucu yang lain adalah saat adik saya menemani temannya untuk membeli sesuatu di toko cina. Nah, adik saya berdiri menunggu di depan toko karena malas untuk ikut masuk. Tiba-tiba ada seorang calon pembeli bertanya pada adik saya, “Koko, ada nggak jual bla bla bla?” Eh, adik saya terkejut dan menjawab, ”Masuk aja ke dalam. Yang jual ada di dalam.”
                Kalau mama, pernah juga dikira orang cina. Waktu itu mama masih belum pake jilbab dan menggendong adik saya yang waktu itu memang masih kecil. Nah, waktu itu juga ketemu ibu-ibu cina yang juga menyapa mama dan langsung berbicara bahasa cina, entah mengatakan adik saya lucu atau apa juga mama saya tidak tahu. Ayah saya juga pernah dikira orang cina, tapi lupa tuh ceritanya gimana.
                Kalau cerita kakak saya, tidak pernah sih dibilang orang cina, tapi waktu beli jam tangan di toko cina si penjual yang cina pernah bilang, “wah, kulitnya putih. Orang cina aja kalah.” Memang sih kakak saya lebih putih dari saya dan adik saya tapi untungnya mukanya tidak mirip cina jadi tidak pernah dikira orang cina. Tadi kakak saya cerita kalau dia pernah dikira manekin di mall. Waktu itu dia menunggu temannya yang sedang memilih baju. Karena tidak suka berjalan kesana-kemari kakak saya berdiri diam tanpa melakukan aktivitas apapun. Nah, tiba-tiba seorang ibu-ibu kaget dan bilang, “Owh, ternyata hidup, toh.”  
                Kalau cerita tentang saya ada sih, Dari waktu saya masih kecil dan belum memakai jilbab sampai saya memakai jilbab sekarang. Dosen saya malah pernah bertanya apakah saya dua beradik dengan teman saya yang cina, lalu teman saya tanya benarkah saya benar-benar tidak ada keturuan cina. Waktu SMP wali kelas saya pernah bertanya apakah saya adik dari abang kelas saya yang cina karena muka kami dibilang mirip. Adik kelas waktu SMA bahwa saya dipanggil chanis oleh teman-teman saya karena itu artinya chinese, padahal itu singkatan dari icha-nisa karena waktu SMA ada teman yang namanya juga icha, seperti saya.
Ada satu cerita di SMA saat saya dan teman saya lewat di depan guru baru dan kemudian beliau berseru, “Duh, nak. Kamu sakit, ya? Kok wajahnya pucat gitu?” Saya kaget dan tidak bisa menjawab apa-apa. Setelah guru itu lewat saya bertanya kepada teman saya apa saya benar-benar terlihat pucat. Teman saya kemudian tertawa terbahak-bahak dan mengatakan kalau wajah saya biasa saja seperti biasa. Masalah ini juga pernah dialami adik saya juga pernah dikomentari oleh seorang dosennnya yang waktu itu menanyakan mengapa wajahnya pucat dan apakah sedang sakit. Padahal memang begitulah wajah adik saya.
Kira-kira itulah beberapa kisah kemiripan anggota keluarga saya dengan orang cina. Padahal kami sama sekali bukan orang cina.  

Sungai Kapuas Tak Hanya Panjang


.


"Masih jauh ya, Din?" Nia mulai terdengar tak sabar mengendarai motornya sambil sesekali mengusap tetesan keringat yang hampir jatuh dari wajahnya. Cuaca kota Pontianak memang sangat cerah hari ini. Hanya terlihat sedikit awan menggantung di langit, selebihnya hanya ada langit biru yang menaungi. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sepertinya rencana kami hari ini akan lancar.
"Bentar lagi nyampe kok, Nia. Kamu liat nggak POM bensin yang ada di sebelah kanan itu. Nah, masuk aja ke gang di sampingnya," aku menjelaskan tempat yang akan kami tuju. Hampir tiga puluh menit Nia mengendarai motornya dari kampus kami.
"Oke, bentar lagi kita sampai," nada suaranya berubah, terdengar bersemangat walaupun sedikit serak. Mungkin karena di sepanjang jalan tadi ia tidak berhenti berbicara dan sudah mulai kehausan.
            Motor yang yang dikendarai Nia masuk kedalam gang sempit yang jalannya sudah mulai rusak di sana-sini. Bebatuan di sepanjang jalan membuat motor berguncang. Beberapa anak kecil berlarian membuat Nia harus mengurangi kecepatan motornya setelah hampir saja menabrak seorang anak yang tiba-tiba saja muncul dari balik pagar. Melihat ukuran tubuh Nia yang kecil, ia cukup lincah dengan motornya.
            "Kita hampir sampai. Itu rumah berwarna hijau muda yang ada di ujung, sebelum sungai," jelasku kepada Nia. Nia menambah laju kendaraannya membuat aku hampir terjungkal ke belakang kalau tidak memeganginya.
            "Akhirnya kita sampai," Nia tersenyum senang sambil menggerakkan badannya, ke kanan dan ke kiri, “Jadi ini ya, rumahmu? Lumayan jauh. Tapi sejauh apapun, aku tidak keberatan.”
            Aku tersenyum. Kelihatan sekali raut lelah dari wajahnya. Namun, ia tampak sangat gembira. Cukup aneh. Lebih baik aku segera menyuruhnya masuk, "Silakan masuk, Nia. Aku mau ganti baju dulu."
            "Ya, silakan. Aku akan setia kok, menunggu di sini. Tapi, jangan lama-lama, ya," Nia memamerkan gigi-gigi serinya.
            Aku segera menuju kamarku dan sesegera mungkin berganti pakaian. Kasihan Nia. Sudah jauh-jauh datang kesini dan ditambah lagi harus menunggu lama. Kamarku sendiri langsung menghadap ke sungai. Saat malam tiba, udara akan terasa sangat dingin karena angin berhembus dari arah sungai. Aku harus memakai selimut yang cukup tebal supaya tidak kedinginan.
"Siapa yang datang, Din?" Emak muncul dari dapur, melongok masuk ke dalam kamarku.
            "Teman kuliah Dina, Mak. Namanya Nia. Dia pengen diajak jalan-jalan di tepian sungai.”
“Lho, memangnya dia dari daerah mana?” Emak masuk ke dalam kamar, tampak penasaran.
“Dia juga orang Pontianak, Mak. Tapi nggak pernah liat sungai kapuas. Jadi, katanya pengen liat gitu. Lucu juga ya, Mak," aku tersenyum.
            "Bukannya itu biasa aja, Din. Apa istimewanya pernah liat sungai kapuas? Kamu aja yang tinggal di dekat sungai nggak pernah jalan-jalan di tepiannya. Palingan saat kamu masih kecil. Waktu kamu masih senang bawa payung kemana-mana. Akhirnya pulang basah kuyup sambil nangis, karena kamu dan payungmu kecebur di sungai."
            "Mak, kok masih ingat aja masalah dulu? Dina kecebur waktu itu karena anginnya kenceng banget. Yang paling penting kan Dina baik-baik aja dan nggak kurang sesuatu apapun," aku mencari alasan dan pura-pura cemberut.
            "Tentu aja ada yang kurang. Payung kamu udah hanyut kebawa arus,” Emak tampaknya masih mau terus menyindirku, namun urung karena melihat wajahku yang semakin kusut, “Ya sudah, kalau begitu. Jangan lupa kasih minuman buat temanmu. Itu ada pisang goreng di dapur. Pisangnya manis, sepertinya langsung masak di pohonnya. Emak mau ke sebelah dulu, nganterin pisang goreng."
            "Sip, Mak. Apa nggak Dina aja yang nganterin pisang gorengnya?"
            "Nggak usah. Kamu temenin aja temanmu itu. Ajak dia jalan-jalan sampe puas. Biar dia ngerasa jadi orang Pontianak."      
            "Iya deh, Mak. Makasih buat pisang gorengnya,” aku segera pergi menuju dapur untuk mempersiapkan penganan kecil buat temanku itu.

            "Udah lama nunggunya, Nia? Maaf, agak lama." aku keluar sambil membawa tiga potong pisang goreng dan segelas teh manis.
            "Akhirnya muncul juga. Tapi nggak papa, kok. Lagian aku dikasih minum sama pisang goreng. Aku juga sambil liatin kolam ikan dari balik jendela. Siapa yang melihara ikan?" Nia menunjuk kolam ikan kecil di samping rumahku. Kolam itu airnya jernih, karena selalu dibersihkan Bapak.
            "Oh, itu kolam ikannya Bapak."
            "Kok sedikit ikannya? Banyak kamu goreng, ya? Hehe,” Nia bercanda sambil mencomot pisang goreng yang aku sediakan, ”Wah, manis! Enak!”
            "Bukan. Sebagian kecil mati, tapi kebanyakan hanyut."
            "Hanyut? Hanyut kemana?"
            "Iya. Di akhir tahun biasanya air laut pasang. Sungai jadi meluap dan banjir. Di daerah dekat sungai seperti rumahku ini, biasanya ikut terendam. Makanya ikan-ikan jadi kabur."
            "Lho, kalo udah tahu langganan banjir, kok kolamnya nggak ditinggikan?"
            "Aku udah pernah bilang ke Bapak. Tapi, nggak tahu juga sampe sekarang kenapa nggak ditinggikan. Mungkin Bapak lupa." aku juga tidak mengerti mengapa Bapak tidak mau meninggikan kolam ikan yang pasti akan meluap kalau banjir datang. Entah sudah berapa banyak ikan Bapak yang hanyut karena banjir, namun Bapak tetap saja memelihara ikan yang baru hingga besar dan kemudian tersapu banjir kembali.
            "Kamu sendiri, apa alasan ingin melihat Sungai Kapuas secara langsung? Bukannya nggak ada yang menarik, ya?" akhirnya pertanyaan yang aku simpan selama ini aku tanyakan juga.
            "Alasan aku ingin melihat langsung sungai kapuas?" ia balik bertanya seakan kurang jelas dengan pertanyaanku. Namun ia tersenyum, pertanda ia hanya ingin menegaskan pertanyaanku.
            "Iya, apa alasannya?"
            "Karena aku orang Pontianak," dia menjawab dengan lugas dan mantap.
            "Hanya itu?" aku mengerutkan dahi. Alasannya sangat sederhana. Aku tidak terlalu memahaminya. Alasannya kurang bisa diterima oleh akalku.
            Nia memperhatikan ekspresiku, dan kami terdiam beberapa saat sampai ia membuka suara, "Ya, udah deh, aku nyerah. Sebenarnya alasan aku minta tolong sama kamu ngajak aku jalan-jalan ke sungai karena aku sama sekali nggak tau tentang Sungai Kapuas."
            "Lalu?" aku setia menanti penjelasan lebih lanjut darinya.
            "Aku punya teman yang tinggal di Jogja. Nah, aku kan sering nanyain dia tentang Jogja dan wisata di sana. Tapi, waktu dia nanya balik mengenai Pontianak, aku bingung mau menjelaskan apa. Hal yang aku ingat cuma Tugu Khatulistiwa. Lalu, dia nanya tentang Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Itupun aku nggak terlalu tau. Huft, malu rasanya. Kota sendiri nggak kenal. Maka dari itu, aku pengen liat Sungai Kapuas secara langsung," Nia mengakhiri ceritanya sambil melahap habis pisang goreng yang aku sediakan.
            "Jadi begitu ceritanya. Aku ngerti, kok. Kalo gitu kita mulai aja deh jalan-jalannnya. Mumpung hari ini cerah."
            "Baiklah. kalau begitu aku keluarkan dulu peralatannya," ia mengambil tasnya yang dari tadi terlihat menggembung.
            "Peralatan?" aku tidak bisa menerka apa yang ia bawa hingga terlihat sebuah benda yang ia keluarkan dari tasnya. Sebuah payung berwarna biru.
            "Berhubung cuaca di kota kita yang tercinta ini sedang panas-panasnya, jadi supaya kulit kita terlindungi, aku siapkan payung ini," Nia tersenyum bangga, seakan-akan ia telah melakukan hal luar biasa.
            "Aku dulu juga punya payung dengan warna yang sama kayak gitu," aku tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
            "Emangnya payunganya udah nggak ada?"
            "Iya, nggak ada lagi."
            "Udah rusak, ya?" Nia mulai membuka payungnya.
            Tiba-tiba Emak datang, "Lho, udah selesai jalan-jalannya?"
            "Belum, Mak. Ini juga mau berangkat. Iya, kan Nia?"
            "Iya, Tante. Bentar lagi. Nih, saya sudah bawa persiapannya."
            "Wah, emang lagi panas sekali cuacanya. Mungkin emang butuh payung."
            "Kalo gitu habisin dulu tehnya, Nia. Tinggal sedikit lagi," sambungku.
            "Eh, warna payungnya mirip payung kamu yang dulu ya, Din?" Emak tiba-tiba menimpali, "Sayang payungnya kecebur. Kamu juga sampe basah kuyup."
            "Kecebur dimana Tante?" Nia meraih gelasnya, sepertinya berniat menghabiskannya.
            "Kecebur di sungai. Untung Dina bisa berenang," jawab Emak.
            "Uhuk!" teh menyembur dari mulut Nia.
            "Kenapa, Nia?" aku kaget. Mengapa ia bisa keselek?
            "Bagaimana kalo kita nggak jadi jalan-jalan aja?" Nia terlihat ketakutan. Aku jadi sedikit geli melihatnya.
            "Lho, kenapa?" aku dan Emak bertanya hampir bersamaan.
            "Aku nggak bisa berenang..."

Nyanyian Hujan


.

Manusia sudah terlalu letih untuk beraktivitas dan hujan menemani dalam kesendirian.  Lama-lama kota khatulistiwa ini bisa jadi kota hujan. Kota yang bahkan tidak terlalu dikenal oleh orang-orang dari provinsi lain. Malam hari,  waktu yang saya sukai. Hanya ada saya dan dia, laptopku. Saat bisa menjelajahi alam bawah sadar, berkolaborasi dengan pikiran sadarku. Kadang kesendirian ini akan sangat menenangkan. Setelah seharian bercengkrama dengan berbagai macam orang.  Mempelajari berbagai macam karakter orang. Saat orang bersikap acuh ataupun tidak peduli. Ternyata kita memang memerlukan orang lain.
Bagaimana mungkin saya sempat berpikir sendiri akan lebih baik? Sedangkan Allah dan Rasul-Nya mengatakan bagaimanapun sesuatu yang berjamaah (bersama-sama) lebih baik? Sudah bertahun-tahun lamanya. Saat masih bersama-sama dengan yang lainnya. Mengenal arti ukhuwah itu, namun kemudian semua hilang. Hal yang tersisa hanya sedikit dan puing-puing itu harus dibangun kembali dengan niat yang lebih baik, lebih bersih. Mungkin semuanya begitu mudah hancur karena niat awal yang tidak benar. Disinilah saya mencoba membangun segalanya lagi, dimulai dari diri sendiri. Mencoba melihat dari berbagai sisi dan menemukan jawabannya. Mengapa teman-teman begitu mudah menyerah keluar dari jalan ini? Mengapa walaupun mereka tahu mereka salah, mereka tetap saja tidak mau keluar dari kesalahan mereka. Satu alasan yang saya dengar, “Saya sudah terlanjur seperti ini, dan tidak bisa keluar.” Semoga saja itu tidak termasuk dengan putus asa dari rahmat Allah.
Begitu juga dengan keadaan sekarang, perjuangan tidak cukup sendiri, tidak harus memikirkan hal itu terus-menerus asalkan kita sudah melaksanakan kewajiban mengingatkan. Apakah itu artnya saya egois? Entahlah. Banyak pikiran yang berkelabat di dalam kepala saya. Satu hal yang pasti, saya menyayangi mereka karena Allah. Semoga Allah juga amat sangat sayang kepada mereka dan membuka hati mereka menjadi lebih baik.
Semua dimulai dari enam tahun lalu, saat semua berjanji berada di jalan ini, selalu dan tidak berubah. Atau mungkin itu khayalan saya belaka. Tapi, saya benar-benar sangat berharap. Jalan ini tidak akan membawa kekecewaan seperti kekecewaan seorang kepada seseorang yang lain, karena Allah selalu paling adil. Mungkin saja mereka tidak percaya dengan janji Allah dan tidak mau kembali pada jalan ini. Hanya Allah yang tahu. Karena mungkin saja mereka juga menipu diri mereka sendiri.
Rintik hujan seakan menjadi musik malam yang tidak pernah membosankan, karena hujan membuat suara-suara lain tidak terdengar jelas. Hanya ada suaranya yang memonopoli dalam rintik atau derasnya. Di saat itu kita akan bisa memikirkan sesuatu di masa lalu dan kita akan merindukannya. Dan, saya merindukan persahabatan yang terjalin enam tahun bahkan lebih, dengan mereka, sahabat-sahabatku. Saat kami punya satu tujuan, saat Allah terasa begitu dekat bersama kami semua. Seakan hujan mengerti itu, ia turun lebih deras ke bumi. Musik malam semakin terdengar.

Cerita Tentang Kami


.


Yup, seperti judul di atas. Ada proyek kecil yang lagi kami rencanakan. Kami di sini adalah saya dengan ketiga teman seperjuangan saya di kampus. Ada Ami, Dessy dan Mau... Nah, lalu sebenarnya proyek kami nih bakal berhasil atau tidak, kami juga tidak terlalu yakin.
Proyek ini adalah sebuah cerita tentang kami berempat dengan karakter asli kami namun dengan nama dan tempat yang berbeda. Yah mungkin seperti sedikit kenang-kenangan sebelum kami lulus (amin, semoga kami cepat lulus) dan juga tanda bahwa kami ada. Wah, bukan pharmacist kalo nggak eksis.
Pada awalnya ya kami bersemangat buat menjalankan rencana kami tapi sampai sekarang belum mulai-mulai juga. Karena beberapa alasan dan kami bingung dengan latar belakang kami yang agak-agak tidak jelas. Ada yang kabur karena mau dinikahkan, ada yang dapat beasiswa, dan ada yang pergi karena pangeran William sudah menikah (ini yang paling nggak logis). Tapi, untungnya kami udah dapat nama masing-masing walau ada yang juga merubah namanya (saya bersyukur nama Middleton nggak jadi digunakan).
Saya berharap proyek kami ini bisa berjalan dengan lancar dan selesai dengan baik. Satu lagi proyek kami yang udah dijalankan adalah makan-makan tiap bulannya dan masing-masing dari kami bergantian buat mentraktir tiap bulannya. Untuk bulan lalu makasih kepada Ami, bulan ini Mau, dan bulan depan menyusul Dessy. Berarti giliran saya bulan Juli. Ini juga jadi alasan kami buat kumpul dan walau jarang ada kuliah kami tetap bisa komunikasi.
Buat Ami (walau males dan nggak pernah baca blog), Dessy, dan Mau, ayo semangat buat melakukan semua rencana kita.
Jia you!

Kuliah Bagi Penulis


.

Kuliah, yah itu adalah jenjang pendidikan yang akan dijalani orang setelah lulus dari SMA. Meskipun tidak semua orang melakukannya, tidak dapat dipungkiri sistem pendidikan di negara kita menamakannya seperti itu. Lalu apakah kuliah bagi seorang penulis.

Seorang penulis jika ingin menghasilkan suatu karya yang baik, minimal membuat orang merasa tertarik untuk membaca karyanya, hendaknya mempunyai keterampilan dalanm menulis. Keterampilan itu tidak semata-mata didapat dari bakat atau muncul dengan sendirinya. Keterampilan menulis harus diasah terus-menerus agar terus berkembang dan tidak menjadi tumpul.

Kuliah bagi seorang penulis adalah dengan membaca. Banyak referensi yang didapat dari membaca karya orang lain. Bukan berarti penulis melakukan plagiat terhadap karya orang lain, hanya saja seseorang akan mendapatkan wawasan yang lebih luas dengan membaca tulisan orang lain. Itulah mengapa banyak orang mengatakan membaca adalah kuliah bagi penulis. Jangan mengaku sebagai seorang penulis apabila enggan membaca.

Bacalah buku sebanyak-banyaknya, karena setiap buku yang kita baca akan menjadi acuan bagi kita dalam menulis. Kualitas tulisan seseorang juga dinilai dari kualitas buku yang ia baca.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Be a Good Writer!!!