Archive for October 2011

Penulis Itu Luar Biasa


.



Menjadi penulis. Saya pikir itu akan sangat keren dan sekaligus sulit. Seseorang ingin menjadi penulis bukan semata-mata ingin terkenal atau mendapatkan banyak uang. Bukan pengarang yang menulis buku dengan genre yang sama dan judul yang dimirip-miripkan -begitu juga dengan sampul depannya- dengan buku yang pada suatu waktu telah menjadi buku best seller atau bahkan sold out. Saya sedikit kurang setuju dengan pengarang ‘aji mumpung’ yang seperti itu. Tapi, sepenuhnya adalah hak mereka dan pembacalah yang akan menilainya. Setidaknya mereka punya kemampuan menerbitkan buku. Jadi, yah bertebarlah buku-buku seperti itu di mana-mana.

Buku punya kekuatan yang hebat. Itu seperti sesuatu yang bisa mengubah orang lain. Saya juga sering terpengaruh oleh buku-buku yang saya baca. Tentu saja banyak buku-buku yang akan memberikan pengaruh positif bagi pembacanya. Namun, ada juga yang sebaliknya banyak juga buku-buku yang menyesatkan. Yah, buku bisa dikatakan sebagai ‘pencuci otak’ yang efektif. Itu tidak bisa dilepaskan dari peran sang penulis yang brilian. Ada seorang penulis yang bukunya sedang saya baca sekarang. Sebenarnya buku itu sudah diterbitkan cukup lama, hanya saja saya baru tertarik membacanya sekarang. Oke, sebenarnya bukan seperti itu. Tepatnya saya sudah tertarik dari dulu, namun baru sekarang saya mendapat kesempatan membaca buku itu karena buku itu sulit didapat di kota ini. Buku yang luar biasa ada di belakang penulis yang luar biasa pula. Itulah yang saya simpulkan dari buku-buku beliau yang saya baca.

Kadang kita akan sangat sulit untuk menulis apa yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Jika itu karangan fiksi mungkin bisa melakukannya dengan penyampaian yang implisit. Jika itu tulisan non fiksi, kita perlu menyiapkan cara penyampaian yang bisa diterima dengan baik oleh pembaca. Kadang ada buku yang ketika dibaca seperti menggurui atau baru beberapa lembar membolak-balik halamannya, sang pembaca sudah mendengkur dengan nyaman seperti yang sering saya alami saat membaca bahan ujian. Untuk yang satu itu, saya sarankan untuk tidak membacanya di atas tempat tidur karena efek sedatif dan hipnotiknya sangat baik -itu menurut saya pribadi. Begitulah, menjadi penulis non fiksi butuh keahlian tersendiri untuk menarik perhatian pembaca.

Dulu saya sangat menyukai menulis fiksi. Saya suka mengaitkan apa yang terjadi dalam kehidupan saya atau dari apa yang terjadi pada hidup orang lain. Sayangnya saya bukan orang yang cukup peduli dengan kehidupan orang lain. Saya punya sedikiti banyak sifat introvert. Hal yang saya sukai dari seorang penulis fiksi adalah mereka seperti seorang psikolog. Mereka bisa membuat banyak karakter dalam suatu cerita dan mereka tidak keluar jalur dalam membuat tulisan mereka. Sedangkan akhir-akhir ini saya sedang menyukai tulisan non fiksi. Berbeda dengan tulisan fiksi yang bisa saya baca dengan cepat tiap halamannya, perlu pemahaman yang mendalam membaca tulisan non fiksi. Kadang saya harus kembali meresapi kata-kata yang ada pada satu halaman dengan membacanya berkali-kali. Membaca tulisan non fiksi membuat saya berpikir lebih banyak daripada saat saya membaca tulisan fiksi. Baik fiksi maupun non fiksi, saya merasa punya kelebihan dan kekurangan masing. Tapi apabila penulisnya handal, keduanya akan sama-sama luar biasa. Karena itulah saya merasa menjadi penulis itu sangat luar biasa.

Sebegitu Besarkah?


.

Teringat sebuah lagu dari grup nasyid the fikr dengan judul Cinta. Lirik awalnya adalah, “Mencintai  dicintai fitrah manusia. Setiap insan di dunia akan merasakannya.” Bicara soal cinta, tidak akan ada habisnya. Namun, setiap orang mempunyai banyak penafsiran tentang cinta. Apapun itu, semoga saja itu bukan penyimpangan dari nafsu atau sesuatu yang dianggap sebagai cinta, tapi sebenarnya bukan.

Cinta, sebenarnya tidak pernah salah. Hanya saja, kadang manusia yang tidak mengerti apa itu cinta dan apa yang harus dilakukan dengannya. Ada segelintir orang yang hanya bisa merasakan getirnya, ada sebagian orang yang tidak pernah percaya lagi padanya, dan tidak sedikit yang tidak mau mengenalnya lagi. Kenapa itu bisa terjadi?
Sebagian orang merasa kecewa, sebagian lain hatinya mungkin mati. Mungkin karena orang lain, mungkin juga karena dirinya sendiri, dan mungkin saja dia tidak mengenal Tuhannya. Apakah kita termasuk orang yang sudah mengenal Tuhan dengan baik? Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya? Ada saja yang masih menyalahkan takdirnya, namun tak kunjung berkaca ke dalam dirinya sendiri. Mungkin cermin hatinya sudah terlalu berdebu pasir sehingga nuraninya sendiri pun tidak dapat terlihat walaupun sekedar mengintip sedikit.
Mengapa demikian? Mengutip dari kata-kata Pak Mario Teguh, “Lawan dari cinta bukanlah benci, tapi ketidakpedulian.”
Keluarga, teman, sahabat, dan masih banyak hubungan yang didasari cinta. Namun, adakalanya tidak ada cinta di sana. Yang tinggal hanyalah ketidakpedulian. Seorang anak yang menjadi begitu rapuh dan tidak merasakan cinta kepada orang tua atau keluarganya karena tidak adanya kepedulian dari para orang tua yang sibuk. Ada juga yang mengatakan bahwa akan lebih baik dibenci atau dimarahi oleh seseorang yang ia cintai daripada tidak dipedulikan. Setidaknya ia masih diacuhkan. Saat keberadaan kita sudah tidak dianggap, berarti orang tidak menganggap kita dibutuhkan.
Mulailah belajar peduli pada orang lain. Karena hidup tidak hanya tentang diri kita sendiri. Kita butuh orang lain. Mencintai orang tua dan sahabat adalah kebutuhan dan hak kita. Tanpa cinta, yang tersisa adalah ketidakpedulian. Lalu, mungkin kita telah  melupakan cinta yang paling penting? Cinta kepada Allah. Seperti lagu ungu yang mengatakan, “Pernahkah kau merasa hatimu hampa? Pernahkah kau merasa hatimu kosong?” Periksa hati kita. Adakah cinta kepada Allah di sana. Jika tidak ada, pantas saja hati kita terasa hampa dan kosong. Dan cinta itu sangat kita butuhkan. Untuk itu, kita butuh iman yang bisa bertambah dengan ibadah yang benar. Jadi, masihkah sebegitu besarkan ego kita?
CINTA…
Kata yang sangat manis, hanya kadang ego kita yang lebih besar…
Maka, mari kita maknai cinta…