Monday, January 16, 2012

Sebelum Kita Tidak Punya Pilihan Lagi

Saya merindukan Pontianak. Yah, begitulah adanya. Walaupun Pontianak adalah kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga kota tercinta ini mendapat sinar matahari yang lebih banyak daripada kota lainnya –membuatnya menjadi sangat panas. Tiga hari lalu saya baru pulang dari luar kota bersama dua orang teman seperjuangan dengan tujuan yang sangat mulia. Bukan mencari kitab suci atau mendapatkan lisensi hunter. Ada tujuan lain yang membuat kami kesana. Kalau tidak, saya mungkin tidak akan repot-repot ke sana. Saya kurang suka jalan-jalan dan (baru saya ketahui) naik pesawat. Bukan karena takut ketinggian atau mabuk udara. Saya menderita alergi sinusitis atau sejenisnya, sehingga naik pesawat yang hanya satu jam pun, merupakan siksaan bagi saya. Kalau suatu saat ada yang bertemu saya di pesawat dan saya terlihat cuek, ketahuilah sebenarnya saya sedang menutup telinga saya dengan kapas atau tisu. Saya jadi berpikir bagaimana saya bisa ke Jepang kalau begini ceritanya. Mungkin saya bisa berwisata dengan kapal pesiar menuju ke sana. Setelah sampai di sana, saya langsung pulang dengan perahu kecil karena kehabisan uang atau bekerja serabutan di sana demi mendapatkan uang untuk pulang ke tanah air. Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Kalau pun mejadi pengantar susu atau koran, semoga saja itu hanya kerja sambilan dan tujuan utama ke sana adalah kuliah. Semoga saja. Doakan saya.

Saya mengatakan merindukan kota kelahiran saya -bahkan saat seorang kakak-kakak yang nge-kost di depan kamar tidak tahu di mana letak kota saya, sampai kami mengatakan saja Pulau Kalimantan agar wajah bingung kakak itu hilang. Saya penyuka pelajaran geografi dan saya bingung apakah memang begitu, ya? Mungkin orang yang tidak tahu letak kota Pontianak tidak menyukai pelajaran geografi atau waktu SD masuk dalam pelajran IPS. Apa mungkin karena waktu SD saya takut terkena sentilan guru IPS saya, membuat saya menghapal semua Ibukota Provinsi di Indonesia? Lalu, apakah hanya saya saja yang merasa aneh dengan orang yang tidak tahu Pontianak itu ibukota Provinsi Kalimantan Barat? Waduh, padahal bukan provinsi baru. Semoga saja itu artinya mereka tidak terlalu menyukai pelajaran IPS atau mungkin karena Provinsi di Indonesia terlalu banyak.

Sekali lagi saya merindukan kota kelahiran saya. Tapi, kalau saya selalu berada pada zona aman saya tidak akan berkembang. Kalau saya selalu berada pada keadaan yang tidak membuat saya menjadi lebih baik saya tentu tidak akan bisa membuat suatu loncatan yang besar. Maka benarlah kata Nabi Muhammad yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri China.” Jika kita selalu ingin berada di zona aman, mungkin hidup kita juga aman dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Semua itu tergantung dari pilihan kita masing-masing.

Dalam sebuah materi, saya mendapati ada empat hal yang tidak akan pernah kembali:
-          Batu, apabila telah dilempar
-          Kata-kata, apabila telah diucapkan
-          Waktu, apabila telah dilewati
-          Kesempatan, apabila telah pergi

Untuk itu, hidup memang tentang pilihan-pilihan. Kita diharuskan memilih menjadi biasa saja atau lebih baik. Pilihlah yang menurut kita baik, sebelum kita tidak punya pilihan lagi. 

Wednesday, November 23, 2011

Penampilan itu Penting Nggak, sih?


Berat badan. Ya, itu hal yang cukup sensitif jika ditanyakan kepada sebagian besar perempuan. Kebanyakan perempuan sih, katanya pengen berat badannya turun. Banyak tuh, produk yang dapat membuat berat badan menjadi “ideal” bertebaran di iklan-iklan seperti susu dan bahkan ada juga produk jamu yang kadang kurang jelas khasiatnya karena mengandung obat pencahar. Tapi, dibandingkan produk penurun berat badan, sepertinya produk penambah berat badan kurang popular. Mungkin karena konsumennya lebih sedikit, seperti saya.

Sebenarnya saya ingin sekali menambah berat badan saya kira-kira sepuluh kilogram. Tapi, susahnya bukan main. Mungkin karena saya tidak hobi makan. Kalau seringnya orang ngemil waktu belajar atau mengerjakan tugas, saya malah tidak bisa konsen jika melakukan hal itu. Ada juga yang bilang supaya mengkonsumsi coklat setiap hari –sayangnya saya eneg makan coklat banyak-banyak. Hmm, mungkin tidak ada harapan menambah berat badan untuk saat ini. Mungkin udah gen dari sononya.  Lagipula semua saudara saya badannya juga tidak jauh berbeda sari saya.

Ada banyak hal yang bisa saya syukuri. Karena apa yang kita inginkan belum tentu terbaik buat kita. Waktu SD dulu saya pendek dan agak gemuk. Kalau upacara bendera, pasti berdiri di barisan paling depan karena tidak ada yang lebih pendek dari saya. Karena itu, dengan segenap hati saya berdoa supaya saya bisa tumbuh tinggi. Ternyata doa saya terkabul. Badan saya menjadi tinggi tapi tidak berbanding lurus dengan berat badan saya. Yah, mau bagaimana lagi. Doa saya sudah dikabulkan, saya harus bersyukur. Capek kalau mengeluh terus. Saya merasa aneh dengan orang yang kalau berat badannya naik satu kilogram saja maka akan heboh sekali -padahal berat badannya masih ideal. Ada juga orang yang kalau tumbuh satu jerawat saja langsung tidak mau keluar rumah. Jujur, saya tidak mengerti mengapa bisa ada yang seperti itu.

Semoga saja kita bukan termasuk orang yang mengganggap besar masalah yang sebenarnya kecil dan menganggap kecil masalah yang seharusnya mendapat perhatian serius. Saya tidak punya hak menghakimi orang lain, toh saya juga tidak lebih baik. Tapi, setidaknya saya ingin orang tahu kalau banyak hal yang lebih penting yang bisa kita pikirkan daripada hal yang sebatas fisik saja. Masih ada aspek lain seperti akal dan rohani. Seseorang dengan tampilan luar yang biasa saja namun akhlak yang baik akan lebih disenangi oleh orang lain, daripada orang yang berpenampilan menarik namun dengan akhlak yang buruk. 

Jadilah apa yang kita inginkan selama itu juga yang Allah inginkan. Maka, kita tidak akan menyesal.

Insya Allah.

Friday, November 4, 2011

Menulis Kenangan


Setelah dengan cukup sukses mengucapkan selamat tinggal pada Bang Bratton dan Mas Marshall pada tanggal 2 November kemarin, akhirnya satu beban bisa terlepas juga dari pundak ini. Terima kasih pada teman-teman yang sudah membantu sehingga saya bisa lulus. Good bye skripsi! Jodoh kita sampai di sini saja. Semoga kau tenang di sana. Ups, masih ada tanggung jawab revisi. Buat teman seperjuangan saya yang tergabung dalam kelompok fenomenal ‘Tri(o)Sulfa’ yang juga sudah lama berhubungan dengan Bratton-Marshall (amikochan.red), semoga sukses buat sidang terbukanya hari senin depan. Saya berdoa yang terbaik buat anda. Wuiss, formal banget ya...

Berhubung beberapa hari ini saya membaca blog teman saya (vicam.red) yang baru saja dipublikasikan, saya mulai berpikir, sepertinya asyik juga kalau cerpen/novel yang saya buat saat SMA diposting di blog. Yah, bukan cerita yang happy ending, sih. Tapi, rasanya kalau kembali menulisnya di blog akan membuat saya kangen SMA. Saat di mana wajah masih tanpa dosa. Astaghfirullah, jadi sekarang saya semakin banyak dosa, dong? Semoga saja tidak.  Untuk itu saya akan mencoba untuk menulis kisah-kisah itu kembali, sembari mengenang masa-masa SMA. Ternyata saya sudah semakin bertambah usia dan semoga saja juga semakin dewasa. Amiiiiin…

Spesial expectation to atashi no nakama, Maulidia, semoga skripsinya lancar dan mendapat hasil terbaik. Kami bertiga (saya, deschan, dan amikochan) akan selalu mendukungmu. Let’s make dreams come true. Good luck! Ganbatte ne!