Hadiah Kecil untuk Ibu yang Tak Kenal Lelah

Sunday, December 20, 2009
Pagi ini kumulai dengan mengayuh sepeda. Seperti biasa, pukul empat pagi. Disaat orang-orang sedang nyaman tidur dia atas futon, aku terbiasa mengayuh sepedaku mengantarkan koran di setiap blok kompleks perumahan dan mansion. Aku jadi teringat ibu yang selalu menyuruhku bangun pagi sewaktu kecil. Kata beliau, orang yang selalu bangun setelah matahari terbit rezekinya akan dipatok ayam. Sepertinya nasehat ibu baru dapat aku mengerti sekarang. Hanya dengan mengantarkan koran, aku bisa mendapat gaji tiga kali gaji pegawai negeri di Indonesia tiap bulannya. Tapi, gaji itu masih tergolong kecil di Jepang karena biaya hidup disini juga besar.
Setelah selesai mengantar koran, aku shalat subuh di salah satu masjid di dekat sini. Hari sudah mulai terang karena di saat musim semi, waktu malam lebih pendek daripada siang hari. Aku kembali ke mansion untuk mandi dan berganti pakaian. Aku harus benar-benar ngebut untuk kembali karena hari ini aku ada kuliah pagi dan tidak boleh terlambat atau aku tidak akan diperbolehkan masuk.
Setelah siap aku segera berangkat menuju stasiun. Sebenarnya masih dua jam lagi kuliahku akan di mulai, tapi aku ingin bersantai sedikit dan lewat jalan memutar melewati sungai menuju stasiun. Sekali-kali aku ingin melewati jalan itu. Sungai itu mengingatkanku pada sungai yang ada di kampung halamanku. Setelah beberapa lama akhirnya sampai. Sungai itu masih bersih dan disekitarnya terdapat beberapa pohon besar. Tidak ada orang disana kecuali seorang anak kecil yang baru saja naik dari sungai menuju jalan raya. Di tangannya menggenggam setangkai bunga yang sangat cantik, agaknya dia memungutnya dari sungai yang memang dangkal itu. Anak yang hebat, bukankah sungai di musim semi ini masih cukup dingin karena musim dingin baru saja berlalu. Aku akan berpikir dua kali untuk melakukannya.
Tiba-tiba, ada sebuah mobil melintas dengan kecepatan sedang. Aku tidak sempat melakukan apa-apa bahkan untuk berteriak, anak itu sudah terserempet dan jatuh ke rerumputan. Aku menahan napas sekian detik kemudian tersadar dan berlari menuju anak itu. Sedangkan mobil yang menyerempetnys telah lari ketakutan. Aku tidak berani menggerakkan tubuh anak itu. Kalau ada bagian tubuhnya yang patah, bisa membuat semuanya menjadi lebih buruk.
Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan kepada pengendara mobil lain yang lewat dan mau mengantarkan anak itu ke klinik terdekat. Aku juga ikut dan tentu saja harus mengabaikan kuliahku. Pakaianku sudah penuh dengan darah dan menolong orang lain tidak boleh setengah-setengah. Sekarang disinilah aku berada, ruang tunggu klinik, sendiri dan hanya bisa berdoa. Aku tidak tahu harus menghubungi keluarga anak itu dengan apa.
Alhamdulillah, ternyata anak itu baik-baik saja. Paling tidak kepalanya tidak bermasalah dan kaki tangannya akan dapat berfungsi seperti biasa dalam jangka waktu satu bulan. Karena tidak tahu siapa keluarga itu, akhirnya aku harus merelakan sebagian gajiku untuk membayar biaya klinik. Sekarang juga anak itu boleh langsung pulang dengan beberapa perban di tangan dan kakinya beserta tongkat penyangga kecil. Aku berbaik hati mengantarkan dia pulang karena sepertinya dia akan kesulitan menemukan jalan pulang sendirian.
“Adik kecil, namanya siapa? Umurnya berapa?” aku bertanya di perjalanan kami pulang.
“Shimura Hideo. Tujuh tahun.” Dia menjawab pertanyaanku dan kelihatan bingung mencari sesuatu, “Bunganya mana?”
Oh, ternyata dia sedang mencari bunga yang diambilnya dari sungai tadi pagi. Aku menyodorkan bunga itu kepadanya dan berkata, “Ini bunganya. Kakak yang simpan. Tapi karena terlempar tadi, jadi agak rusak. Maaf, ya!”
“Yah, bunganya rusak. Bagaimana bisa diberikan pada Ibu?” anak itu kelihatan sangat sedih dan mulai menangis karena bunga yang ia ambil dengan susah payah rusak, namun sama sekali tidak menyesali kondisinya yang sekarang. Kecelakaan yang ia alami dan luka-luka yang ia dapat seakan tidak berarti apa-apa dibandingkan bunga itu.
“Memangnya Ibu Adik Ulang Tahun hari ini?”
Dia melihatku dan menjawab sambil sesenggukan, “Ibu tidak ulang tahun hari ini. Hari ini kan tanggal 12 Mei, Hari Ibu. Tidak mungkin kakak tidak tahu. Aku ingin memberikan bunga ini untuk ibu. Tanda terima kasih karena telah menjaga dan merawatku selama ini.”
“Kenapa tidak beli bunga di toko saja, Dik? Nanti kakak yang belikan,” aku mulai simpati pada anak ini. Sepertinya ia tidak punya uang yang cukup.
“Terima kasih, tidak perlu, kak. Kata Ibu, laki-laki harus bisa berjuang sendiri dalam hidup ini semampunya. Kakak bisa mengantarkan aku ke sungai itu lagi?”
Mataku mulai berkaca-kaca menjawab pertanyaannya, “Tentu saja. Tapi ada syaratnya. Izinkan kakak untuk membantu mengambilkan bunga itu. Karena kakak tidak akan mengizinkan Hideo-kun masuk ke sungai dengan kaki seperti itu. Bagaimana?”
Anak itu mengangguk mantap. Raut wajahnya yang serius sekali terlihat agak lucu. Tapi, aku yakin ia telah dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat hebat. Seorang ibu yang tak kenal lelah berjuang demi anak-anaknya walau harus dibayar dengan taruhan nyawa. Itulah sosok ibu yang sempurna di mata anak-anaknya.
Kami menyusuri sepanjang tepian sungai mencari bunga yang namanya saja kami tidak tahu. Mungkin agak susah untuk mencarinya, tapi aku sudah berjanji kepada Hideo dan diriku sendiri untuk menemukannya. Angin musim panas yang hangat mulai tercium, sehangat cinta kasih seorang ibu. Aku jadi rindu pada negaraku tercinta, Indonesia dan lebih banyak rindu dan cinta untuk ibu.

Satu Hari Dalam hidup Kita

Sunday, November 1, 2009
Pernah merasa hari yang kita lalui sama sekali tidak bermakna? Itulah disaat kita berjalan di muka bumi ini tanpa meninggalkan bekas. Tidak untuk kebaikan diri sendiri ataupun orang lain. Hanya sebuah langkah yang dengan mudah tersapu angin dan hilang tanpa bekas. Semua kita mulai dari sebuah pagi dengan semangat yang sangat baik. Di dalam kepala dipenuhi dengan berbagai rencana yang begitu banyak. Melangkahkan kaki sambil mengucap Bismillah.
Sebuah hari yang baik dengan awal yang baik.
Namun, di perjalanan kita bisa lupa dengan tujuan yg telah kita tanamkan di hati, hari ini. Kita terlalu sibuk mengurusi hal yang remeh dan kurang penting sehingga hari berlalu seakan tanpa bekas.
Akhirnya, menjelang tidur kita menyesal karena tidak melakukan yang terbaik untuk hari ini. Akan lebih merugi bagi orang yang tidak pernah mengintrospeksi diri sebelum tidur. Tidak memikirkan makna hidup, hal yang telah dilaluinya dan manfaat yang telah diberikan.
Biasakan diri dengan muhasabah sebelum tidur. Kita tidak tahu apakah hari esok masih ada untuk kita, wahai sahabatku.

Edcoustic's

Saturday, October 10, 2009
Cukup lama tidak mengisi blog,mungkin dikarenakan rutinitas dan amanah yang baru diemban cukup membuat saya kesulitan untuk menemukan ide buat menulis. Namun, saya tidak ingin hal ini membuat saya berhenti menulis di blog ini. Meski proyek pembuatan novel saya benar-benar sedang masa vakum, saya berharap suatu saat nanti saya bisa menerbitkan sebuah novel yang dapat menjadi aspirasi bagi banyak orang. Bukan hanya sekedar novel hiburan, atau cinta remaja picisan, namun juga membuat seseorang memahami arti sebuah hidip.
Mungkin cita-cita saya terlalu muluk-muluk. Namun, siapa tahu itu akan terwujud suatu saat nanti dengan hasil yang terbaik.

Posting kali ini, saya mau menuliskan beberapa bait liri sebuah lagu yang dibawakan oleh Edcoustic, Muhasabah Cinta. Lagu yang sedang saya sukai saat ini. Semoga dapat mendapat hikmah dari lagu ini...

Muhasabah Cinta
Album :
Munsyid : EdCoustic
http://liriknasyid.com


Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

Back to Reff.